Thursday, 7 April 2016

Left and Lost.

Aku pernah hampir terlelap. Aku pernah merasa seketika hilang dari satuan masa. Entah terselip di dimensi yang mana, pun detik yang ke-berapa. Aku pernah hampir terlepas dari raga, dengan jiwa yang sadar setengah saja.
‌Kemudian refleks terbangun. Mataku terbuka dengan pupil yang membesar. Nafas tersentak, menarik oksigen lebih banyak. Denyut nadiku, terasa sampai ke permukaan. Pun telingaku, mendengarkan iramanya yang mendadak lebih cepat.
Aku membenarkan posisi tidurku. Langit-langit kamarku sedikit buram. Kunang-kunang. Mataku berkunang-kunang sesaat, kemudian normal dalam hitungan jari. Aku pun mengubah posisi tidurku menjadi terduduk bungkam. Diam. Rasanya aku masih terhanyut dalam pikiran gila itu.
Pikiran yang membuatku merasa takut. Pikiran yang menggambarkan sesuatu yang buruk. Pikiran yang membawaku ke sebuah pertaruhan; meninggalkan atau ditinggalkan.
Tidak ada pilihan yang baik. Ya, tidak ada pilihan yang tak berujung perpisahan. Aku pernah berbicara dengan seorang anak berusia 7, dan ia bertanya kepada orangtuanya tentang makna prioritas. Aku membantu untuk menjawabnya. Sesuatu yang kau kedepankan; kau utamakan. Kemudian anak itu mengangguk, tanda ia mengerti.
Kemudian ia bertanya lagi tentang makna suatu kata yang baru saja ia baca dalam sebuah majalah.
"Apa arti dari perpisahan?"
Aku melirik sejenak kepada orangtuanya. Mulutnya terbuka sedikit, hendak menjawabnya, namun tak jadi. Hanya menggantung di udara. Kemudian ia memintaku untuk menjawab. Aku juga terdiam.
Aku, tak tahu. Bukan, aku sudah pernah mengalami sebuah "perpisahan". Tapi... Aku tidak bisa menjelaskannya, karena bagiku, kata itu sudah lengkap. Sudah jelas, huruf per hurufnya. Tak perlu lagi ada penjelasan, atau makna lainnya. Satu yang pasti, kau akan mengerti ketika sudah mengalaminya sendiri. Maknanya, hanya kau dan rasa yang bisa menterjemahkannya.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Ini pahit. Aku menyesal telah mengenal makna "perpisahan" sebelumnya. Setidaknya, jika aku seperti sepupuku yang belum mengenal makna kata itu, aku tak perlu merasa takut. Tak perlu membuat kesimpulan akan kehilangan. Lagipula, apakah ada maksud lain dari perpisahan selain kehilangan?

Monday, 14 March 2016

Cliché.

Semoga esok akan baik-baik saja. Aku berdoa malam ini dan akan menyusup lewat mimpi yang mungkin saja kau akan lupa setelah bangun. Tapi jika nanti kau masih ingat, maka dengarkan aku baik-baik.
Sejatinya, aku ini terlalu mudah pecah. Sebenarnya aku ini wanita, yang tak bisa berkata banyak. Bukan pula manusia yang pandai menampakkan apa yang ia rasa. Bukan. Aku bodoh total untuk hal seperti itu. Tapi yang aku yakini ialah, kau bisa melihatnya. Kau pastilah bisa merasakannya. Dengarkan, aku bukan pintu yang terbuka lebar, tapi bukan pula pintu yang tertutup rapat. Mengerti? Jika tidak, maka akan kujelaskan lebih rinci.
Klisenya, aku bukan, bukan yang mudah dilalui banyak orang. Tapi bukan pula yang sukar untuk menerima. Tapi pintu itu terbuka, sedikit. Hanya orang yang berusaha untuk membuka pintu itu lebih lebar yang akan berhasil masuk. Tapi ingat, selama pintu itu belum terkunci maka orang lain juga berhak untuk masuk, bukan?
Aku hanya ingin tahu, sejauh apa kau akan berusaha untuk mengunci pintu itu, agar tiada yang lain yang dapat masuk. Walau nyatanya, ruang yang ada hanya dapat dimasuki oleh seorang saja. Tapi, siapa pula yang tahu jikalau ternyata kau tidaklah sanggup bertahan pada ruang itu, kemudian memilih pergi. Aku, tidak ingin menguncinya sendiri. Takut-takut suatu hari kau benar-benar muak, kemudian memilih mendobrak pintunya, melukai ruang itu. Percayalah, aku terlalu takut untuk menjadi kacau hanya karena aku merasa telah dipilih padahal tidak. Merasa telah benar menemukan yang baik untuk menjaga padahal ia sama sekali tak berniat demikian. Aku takut, besar rasa sendiri. Aku takut, terbawa perasaan dan tebak-tebakan sendiri. Dan lebih takut lagi, jika kau sudah tahu bahwa nyatanya aku telah merasa diperlakukan dengan baik, maka kau akan merasa aman dan tak lagi berusaha untuk mengunci ruang itu, seenaknya tinggal tanpa memberi kepastian bahwa kau memang benar takkan pergi.
Aku tidak, tidak akan menetapkan apapun. Aku tidak akan memaksamu untuk tinggal hanya karena kau sudah berhasil masuk pada ruang itu. Walau nyatanya, aku pun takut jika kau tiba-tiba pergi. Tapi aku tak ingin egois. Jika memang kau tidak berusaha mengunci ruang itu, maka artinya kau selalu punya hak untuk meninggalkan. Itu akan selalu menjadi hakmu, dan kewajiban bagiku untuk melepaskan. Maka aku mohon, temukanlah kunci itu dan kuncilah sendiri olehmu. Agar aku percaya, kau memanglah benar berniat untuk tinggal dan menjaga ruang itu. Percayalah, aku di sini, hanya ruang yang lengang, jika tak ada yang menempati.

Tuesday, 1 March 2016

An Entire Galaxy.

When I was hoping a single planet,
You, yes you, came like an entire galaxy to me.
Dan semua ini, membuat gue percaya bahwa Tuhan selalu punya rencana yang lebih indah. Semuanya terbayar, setelah gue mengalami patah jutaan kali karena orang yang sama, setelah segalanya menyerupai badai yang tak kunjung habis, setelah segalanya serumit benang kusut, someone else comes and makes me forget about all the pain. Ini terlalu seperti fairytale buat gue, sungguh. Gue pun gak pernah nyangka kalau gue akan merasakan semua ini. Dia, terlalu seperti tokoh dalam novel teen-romance yang sering gue baca. Yang penuh kejutan dan gak pernah terbaca. Serius. Tapi, sebanyak apapun novel yang sudah gue baca, gak ada surprise yang sama seperti apa yang sudah dia berikan ke gue. Okay, mungkin bentuk fisik dari surprise itu sama seperti apa yang ada dalam novel. Tapi cara dia menyampaikannya, itu gak pernah sama. Tidak pernah ada. Atau mungkin pernah ada, tapi ini yang pertama kalinya bagi gue.
Dan semua itu, semua perasaan elated and euphoria at the same time itu, dia yang mengenalkannya kepada gue. Rasa terkejut dan panik yang baru gue rasakan seperti itu, dia yang mengajarkan. Perasaan menjadi wanita paling beruntung di dunia ini, dia yang berikan.
Gue gak pernah tahu ke depannya akan seperti apa, tapi setidaknya dia akan menjadi tokoh penting dalam sejarah hidup gue. Kan, kemarin-kemarin, gue sudah belajar banyak tentang hal-hal yang tak disangka-sangka. Jadi, gue gak mau terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan. We’ll see.
Sementara orang yang telah mengajarkan gue untuk lebih bersabar, alias yang mengenalkan gue bagaimana rasanya patah hati, sekarang menjadi teman gue. Entahlah, semuanya berlalu begitu saja.
Sekali lagi, gue ngerasa sangat beruntung menjalani semua ini. Karena gue yakin, gak semua orang seberuntung gue. Gak semua orang pernah ngerasa nelangsa sedalam gue, juga bahagia sesuper gue. Kalau saja gue punya waktu, maka izinkan gue untuk menceritakan lebih dalam dan lebih jauh. Doakan saja, semoga ceritanya bertambah baik!

Tuesday, 16 February 2016

I Saw You.

When i looked up to the mirror,
I saw you.
I saw a million of questions.
With a deer,
It was deeper than i thought.

It was not only about your eyes
But deeper than that,
I didn't see who you really were.

Who you really are for the next second, next minute, hour, and forever.

I needed to know
Because you were a part of my puzzle
But i said it once more,
You were my unsolved riddle.
And it gonna hunts me every night
Under my closed eyes.

Friday, 12 February 2016

Behind The Window.

And it still the same.
You were standing there
Right between the cold of drizzled
And wiped eyes.
You were a silhouette and a shadow
Behind the window
At the same time.
With a frozen mouth
I knew there were words that left
Unsaid.
But we have always been used to be alike.
You, stand under the ground
While I stand to face the sky
And we didn't wanna give up for each other.
We've been stuck on our own eyes
That blind because of the dark and the light.
We wouldn't be moved
To get closer
Or furthermore.

Saturday, 23 January 2016

It's (Almost) Over.

00.48 dan kantuk belum juga menyerang gue. Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, hanya gue benar-benar tak bisa tidur. Otak gue terus berpikir dalam temaram dengan kantung mata yang menghitam. Sementara di luar sana, jangkrik menjadi suara malam yang tertangkap indera pendengar. Tubuh gue sudah melemah, sungguh. Tapi daya pikir gue masih memaksa gue untuk bekerja. Sebenarnya, apa yang telah terjadi?
Sekarang, beberapa perkara dalam hidup gue seolah menemukan titik terangnya secara perlahan. Semuanya kembali berubah, berkembang. Tapi tetap meyisakan tanya bagi gue. Matahari yang akan muncul dan berpulang itu, tiap kalinya melahirkan perkembangan baru. Gue gak tahu bagaimana cara menjelaskannya, karena gue rasa ini masih terlalu mengira-ngira. Namun gue rasa, semuanya akan segera berganti tema.
Gue rasa semuanya akan segera berakhir.
Gue rasa gue telah mengerti kenapa semuanya dibuat serumit ini. Sekiranya memang bisa gue umpamakan, maka jawabannya adalah ketika sore itu. Ketika tawa itu berguguran. Dan gue gak tahu harus mendeskripsikannya bagaimana, karena gue gak bisa menjelaskannya lebih baik lagi. Kalimat gue masih saja miskin sampai rasa yang ada gak bisa terjamak oleh kata. Dimana kita hanya bertemu dalam perjalanan. Dimana gue hendak pergi dan kamu hendak pulang. Hanya itu. Tidak tertulis sebagai manusia yang harus memberi penjelasan, berbagi kata.
Hanya saja gue dan kamu mungkin sama-sama tak pernah terpikir bahwa kita pernah melintas pada jalan yang sama. Pada pikiran yang sama. Dan—mungkin—pada rasa yang sama. Kita terlalu banyak mengabaikan. Atau hanya menebak-nebak, menganalisa.
Ini kesalahan siapa? Gue pun gak tahu. Gak bisa menyalahkan siapa pun. Hingga akhirnya segalanya perlahan bertambah rumit. Gue mendengar kabar ini, itu. Kemudian membuat kesimpulan sendiri. Kemudian membenci sendiri. Kemudian semuanya bertambah kabur, blur. Kemudian gue berbelok, dengan kompas yang ternyata salah.
Dan kita bertemu lagi. Tapi gue udah terlanjur tersesat. Gue sudah terlanjur melewati hutan berduri dan terkena cakaran hewan buas hingga hampir mati. Mungkin kamu gak tahu itu, gue pun tak tahu apa yang menjadi perjalanan kamu selama gue tersesat itu. Tapi percayalah, segala atmosfer dan cahaya mentari yang kita terima bahkan berbeda. Gue bahkan telah bisu, untuk kamu. Karena diperjalanan itu, gue katakan lagi, gue sudah termakan berita buruk itu. Hingga akhirnya gue sendiri bingung, sebetulnya gue ini masihkah yang dulu atau sudah bukan?
Tapi menyadari bahwa kita bahkan melewati perjalanan yang berbeda, maka ada baiknya gue bersiap-siap untuk berkemas dan pulang ke rumah. Bersiap-siap belajar untuk mengosongkan hati, sebelum terkena duri yang baru lagi. Pintarlah sedikit, wahai anak muda. Bahkan pada pertemuan pertama kita dalam perjalanan, kamu hendak pulang ke rumah. Untuk kemudian memulai perjalanan baru, yang bukan untuk gue, seperti apa yang diberitakan. Ini mungkin kesimpulan yang salah, tapi setidaknya hanya petunjuk ini yang gue punya. Gue harus mengakhiri perjalanan ini, pulang dan bersiap untuk segala kemungkinan yang baru.

Friday, 8 January 2016

Stay.

Jerawat gue semakin menjadi. Itu bikin gue keki setengah mati.
“Lagi banyak pikiran, ya?” pertanyaan seperti itu tiba-tiba bermunculan. Gue hanya bisa mengangkat bahu sebelum akhirnya gue menyadari bahwa memang iya, terlalu banyak pikiran yang menyesaki otak gue hingga mata gue terasa berat.
Tatapan gue sering kosong belakangan ini. Malah, yang nyebelin adalah ketika teman-teman gue mendadak menyanyikan lagu Geisha yang liriknya, “Lumpuhkanlah ingatanku….” Apalah, gue tidak tahu judulnya. Mereka gak akan berhenti bernyanyi sebelum akhirnya gue sadar bahwa gue telah melamun, lagi. Atau yang lebih gila adalah ketika teman sekelas gue tiba-tiba melambai-lambaikan tangan depan muka gue, atau melakukan atraksi lainnya seperti menari atau mengagetkan gue.
Gue juga gak tahu kenapa gue bisa sebegininya. 2016 belum genap sebulan, tapi masalah baru bermunculan terlalu cepat. Seperti perkembangbiakkan amoeba yang tidak dapat terkontrol. Semuanya. Gue gak bisa menceritakan satu per satu karena bisa-bisa kalau gue tulis semuanya, maka rangkaiannya bisa menjadi novel trilogi. Hm, gue nampaknya harus memutar otak untuk memberi tiga judul novel yang hikmahnya masih amat-sangat absurd ini.
Tapi yang jelas adalah, semua terjadi bersamaan. Tanpa jeda. Menyerang gue bertubi-tubi hingga rasanya gue penat sendiri. Gue butuh tameng, sungguh. Atau setidaknya, gue perlu tempat beristirahat. Berteduh, mengambil sedikit napas untuk bisa melanjutkan semuanya.
Malah terkadang, gue jadi ingin pindah negara saja. Tapi, kalau gue pindah negara, nanti gue ketemu manusia baru lagi. New people, new fights, new problems, new stories, tanpa belum tentu menutup hubungan gue dengan old people, old fights yang mungkin masih to be continued, old problems yang juga mungkin masih butuh penjelasan, dan old stories yang mungkin belum menemukan ending-nya.
Kalau begitu, gue pindah planet saja. Serius, gak-papa. Kalau memang itu better and worth it, why not? Asalkan nanti di planet baru gue, gue tetap bisa shalat dan beribadah, makan yang banyak, minum yang enak, tidur nyenyak, dan merasa all fine all good. Terus minimal, gue bisa balik ke bumi seminggu sekali, pake pesawat ruang angkasa rongsokan yang ada di Jakku juga gak-papa. Selanjutnya gue bersekolah di sana. Mungkin di sana juga KKM-nya lebih rendah daripada sekolah gue. Atau setidaknya, gravitasi di sana bisa jadi lebih kecil, bahkan gak ada. Lumayan, nanti pelajaran fisika jadi lebih mudah karena jika gravitasi benar-benar nol, maka sesulit apapun soalnya, jika dikalikan dengan gravitasi yang bernilai nol maka hasilnya akan nol juga. Kemudian di sana nanti gue bisa melihat bintang dengan jelas jika planet yang gue tinggali tidak berkabut. Uh, senangnya. Dan kalau planet itu punya banyak satelit, maka gue akan melihat lebih dari satu satelit dalam waktu bersamaan. Tidak seperti bulan yang hanya satu dan tak selalu hadir.
Sekarang gue malah garuk-garuk kepala. Sepertinya gue sudah mulai error. Karena faktanya, gue akan tetap mencintai bulan. Gue selalu suka bintang. Gue selalu kagum pada langit. Maka ini pertanda bahwa gue harus tetap di sini karena gue harus bertanggungjawab atas apa yang gue sayangi beserta segala resikonya. Ya, sudahlah. Gue menetap di bumi. Lemme' fight.